PBF

Perdagangan Besar Farmasi

Deskripsi PBF

Pedagang Besar Farmasi, yang selanjutnya di singkat PBF adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.

PBF adalah sebuah usaha di bidang farmasi yang berkaitan dengan distribusi dan penyimpanan. Saat ini, apotek atau klinik mungkin lebih di kenal di kalangan masyarakat umum sebagai pemasok obat. PBF berbeda dengan apotek atau toko obat biasa. 


Landasan Hukum

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2017 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1148/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Perdagangan Besar Farmasi


Fungsi PBF

PBF sebagai Jembatan antara Pabrik dan Distributor

PBF membantu pabrik farmasi untuk menyalurkan produknya ke apotek, klinik, rumah sakit, dan berbagai tempat lainnya yang telah di tentukan.

Sistem kerja Pedagang Besar Farmasi sudah di atur berdasarkan undang-undang yang berlaku untuk memastikan ketersediaan obat di masyarakat bisa terpenuhi secara merata.
Namun, tak hanya itu, beberapa fungsi lainnya, yaitu sebagai berikut :

1. Menyediakan dan Menyimpan Obat

Obat harus di simpan dan siap di edarkan setelah selesai diproduksi agar dapat sampai ke tangan masyarakat. Untuk mempermudah proses penyimpanan, pengiriman, dan penyediaan obatnya, tempat yang berfungsi sebagai pusat tentunya di perlukan. Di sini, PBF hadir sebagai tempat sentral produsen obat-obatan tersebut. PBF juga di lengkapi dengan apoteker yang bertanggung jawab untuk memastikan penyimpanan dan distribusi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Hal tersebut berguna untuk menghindari terjadinya pengedaran suplemen palsu.  

2. Distributor ke Fasilitas Kefarmasian

Karena adanya kesulitan dalam mendapatkan obat langsung dari pabriknya oleh fasilitas kefarmasian, PBF hadir sebagai penyalur dan memudahkan suplai obat berjalan secara teratur. Kontrol ketat dari kualitas penyimpanan dan pengiriman melalui sertifikat CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik) yang di miliki oleh sebuah PBF membuat kualitas obat menjadi terjamin. Tak hanya itu, dengan adanya aturan perundang-undangan yang ketat, jaringan distribusi juga menjadi sehat. 


Sistem Bisnis PBF

Pada dasarnya, PBF merupakan sebuah bisnis yang secara umum memiliki kegiatan menjual dan membeli untuk memaksimalkan keuntungan dengan mempertimbangkan biaya produksinya. 

Walaupun sedikit berbeda, PBF memiliki sistem bisnis yang tidak jauh berbeda dari prinsip dasarnya. Hanya saja, cakupan distribusi dan kewajiban PBF menjadi pembeda di bandingan dengan distributor lainnya. 

Tetap saja, apabila di lihat dari entitas bisnisnya, PBF tidak jauh berbeda. Apabila di lihat dari sisi fungsinya, seperti pengadaan, penjualan, penyimpanan, dan penagihan, PBF kurang lebih memiliki sistem yang tidak jauh berbeda. 

Pada proses pengadaan, tidak sembarang suplemen akan dibeli. Di perlukan, pertimbangan kebutuhan dan kemendesakan yang matang, serta perlu adanya pertimbangan di segi faktor bisnis, seperti riwayat penjualan, program pemasaran, dan permintaan pasar. 

Sistem Penyimpanan dan Pengiriman pada PBF

Terdapat prosedur yang bertujuang dalam menghindari terjadinya kerugian besar akibat kecerobohan ketika menyimpan produk. Maka dari itu, PBF sudah mempertimbangkan secara matang dalam sisi penyimpanan produknya. Hal penting yang perlu di perhatikan adalah kondisi kedaluwarsa produk, sehingga prinsip first expired, first out digunakan dalam sistem penyimpanan PBF. Prinsip first expired, first out sendiri merupakan produk yang telah mendekati masa kedaluwarsa terlebih dahulu harus di jual lebih dulu. Penempatan produk juga di sesuaikan dengan pengelompokan golongan obatnya. Proses berikutnya adalah pengiriman. Standar CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik) menjadi standar dalam pengiriman produk di PBF. Umumnya, pengiriman bisa di lakukan secara langsung apabila memiliki tim atau juga dengan memanfaatkan layanan pihak ketiga. Faktanya, bisnis yang bergerak di berbagai bidang memiliki sistem dan cara kerjanya masing-masing. Namun, PBF sendiri memiliki sistem yang secara umum sama dengan bisnis lainnya, meliputi pengadaan, penyimpanan, dan pengiriman. 


Masa Berlaku

Berlaku 5 (lima) tahun dan dapat di perpanjang selama memenuhi persyaratan.


Persyaratan

Untuk memperoleh izin PBF, pemohon harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. berbadan hukum berupa perseroan terbatas atau koperasi.

b. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

c. memiliki secara tetap apoteker Warga Negara Indonesia sebagai penanggung jawab.

d. komisaris/dewan pengawas dan direksi/pengurus tidak pernah terlibat, baik langsung atau tidak langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang farmasi.

e. menguasai bangunan dan sarana yang memadai untuk dapat melaksanakan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat serta dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi PBF.

f. menguasai gudang sebagai tempat penyimpanan dengan perlengkapan yang dapat menjamin mutu serta keamanan obat yang di simpan.

g. memiliki ruang penyimpanan obat yang terpisah dari ruangan lain sesuai CDOB.

PBF yang akan menyalurkan bahan obat juga harus memenuhi persyaratan:

a. memiliki laboratorium yang mempunyai kemampuan untuk pengujian bahan obat yang disalurkan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Direktur Jenderal

b.memiliki gudang khusus tempat penyimpanan bahan obat yang terpisah dari ruangan lain.


Prosedur Perizinan

  • pemohon harus mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Badan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kepala Balai POM dengan menggunakan contoh Formulir 1 sebagaimana terlampir.
  • Permohonan harus ditandatangani oleh direktur/ketua dan apoteker calon penanggung jawab disertai dengan kelengkapan administratif sebagai berikut:

a. fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)/identitas direktur/ketua;

b. susunan direksi/pengurus;

c. pernyataan komisaris/dewan pengawas dan direksi/pengurus tidak pernah terlibat pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang farmasi;

d. akta pendirian badan hukum yang sah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

e. surat Tanda Daftar Perusahaan;

f. fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan;

g. fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak;

h. surat bukti penguasaan bangunan dan gudang;

i. peta lokasi dan denah bangunan

j. surat pernyataan kesediaan bekerja penuh apoteker penanggung jawab; dan

k. fotokopi Surat Tanda Registrasi Apoteker penanggung jawab.

  • Untuk permohonan izin PBF yang akan menyalurkan bahan obat selain harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus melengkapi surat bukti penguasaan laboratorium dan daftar peralatan.


Lama Proses

10 hari kerja dari persyaratan di terima lengkap dan benar.

Need Consultation ? Feel free to contact us !

sertifikasi

CV AFITA CONSULTANT
GRIYA PERMATA BLOK B / 5 CIBUBUR – INDONESIA
www.afitaconsultant.co.id